Kamis, 12 November 2009

BAB II

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Kehamilan
1. Pengertian Kehamilan
Kehamilan mulai dari konsepsi sampai lahirnya janin, lamanya hamil normal adalah 280 hari ( 40 minggu atau 9 bulan 7 hari ) dihitung dari Hari Pertama Haid Terakhir ( HPHT ) ( Saefudin, 2001 : 89 ).

2. Perubahan Fisiologis dalam kehamilan
a. Sistem Reproduksi
Menurut Sarwono ( 2005:89 ), akan terjadi banyak perubahan pada organ-organ reproduksi wanita hamil diantaranya, uterus akan membesar pada bulan-bulan pertama dibawah pengaruh estrogen dan progesteron yang kadarnya meningkat.
Berat uterus normal lebih kurang 30 gram, pada akhir kehamilan ( 40 minggu ) berat uterus ini menjadi 1000 gram, dengan panjang lebih kurang 20 cm dan dinding lebih kurang 2,5 cm. Pada bulan-bulan pertama kehamilan bentuk uterus seperti buah advokat, agak gepeng. Pada kehamilan 4 bulan uterus berbentuk bulat. Selanjutnya, pada akhir kehamilan kembali seperti bentuk semula, lonjong seperti telur. Hubungan antara besarnya uterus dengan tuanya kehamilan sangat penting diketahui, antara lain untuk membuat diagnosis apakah wanita tersebut hamil fisiologis, atau hamil ganda, atau menderita penyakit seperti mola hidatidosa, dan sebagainya.
Serviks uteri pada kehamilan juga mengalami perubahan karena hormon estrogen. Akibat kadar estrogen meningkat, dan dengan adanya hipervaskularisasi maka konsistensi serviks menjadi lunak.
Vagina dan vulva akibat hormon estrogen mengalami perubahan pula. Adanya hipervaskularisasi mengakibatkan vagina dan vulva tampak lebih merah, agak kebiru-biruan ( livide ).
Sedangkan pada ovarium, pada permulaan kehamilan masih terdapat korpus luteum graviditatus sampai terbentuknya plasenta pada kira-kira kehamilan 16 minggu. Korpus luteum graviditatus berdiameter kira-kira 3 cm kemudian ia mengecil setelah plasenta terbentuk.

b. Payudara
Buah dada biasanya membesar dalam kehamilan disebabkan hypertrofi dari alveoli. Hal ini sering menyebabkan hipersensitivitas pada mammae. Dibawah kulit buah dada sering tampak gambaran-gambaran dari vena yang meluas.
Puting susu biasanya membesar dan lebih tua warnanya dan acap kali mengeluarkan cairan kuning yang lengket yang disebut colostrum. Untuk mencari data kehamilan areola mammae dapat dipijat untuk melihat apakah keluar colostrum atau tidak. Areola mammae melebar dan lebih tua warnanya. Perubahan-perubahan pada buah dada sedemikian rupa sehingga dapat dipakai untuk menentukan kemungkinan kehamilan pada hamil muda. Perubahan-perubahan tersebut disebabkan pengaruh hormonal.

c. Sistem Endokrin
Pada kehamilan 10 minggu kortikotropin telah dapat ditemukan dalam hipofisis janin. Hormon ini diperlukan untuk mempertahankan grandula suprarenalis janin. Jost dan kawan-kawan membuktikan ini dengan mengadakan dekafitasi janin inutero, yang mengakibatkan grandula suprarenalis jaringan tersebut menjadi atrofik.

d. Sistem Kardiovaskuler
Penyesuaian maternal terhadap kehamilan melibatkan perubahan sistem kardiovaskuler baik aspek anatomis maupun fisiologis. Adaptasi kardiovaskuler melindungi fungsi fisiologi normal wanita, memenuhi kebutuhan metabolik tubuh saat hamil, dan menyediakan kebutuhan untuk perkembangan dan pertumbuhan janin.
Hipertrofi ( pembesaran ) atau dilatasi ringan jantung mungkin disebabkan oleh peningkatan volume darah dan curah jantung. Karena diafragma terdorong keatas, jantung terangkat keatas dan berotasi kedepan dan kekiri. Peningkatan volume darah dan curah jantung juga menimbulkan perubahan hasil auskultasi yang umum terjadi selama masa hamil. Antara minggu ke 14 dan ke 20, denyut meningkat perlahan, mencapai 10 sampai 15 kali per menit, kemudian menetap sampai aterm. ( Bobak, 2004 : 112 ).
e. Darah
Sirkulasi darah ibu dalam kehamilan dipengaruhi oleh adanya sirkulasi ke plasenta, uterus yang membesar dengan pembuluh-pembuluh darah yang membesar pula, mamma dan alat lain-lain yang memang berfungsi berlebihan dalam kehamilan. Volume darah ibu dalam kehamilan bertambah secara fisiologik dengan adanya pencairan darah yang disebut hidremia. ( Sarwono, 2005 : 96 ).
Selama pertengahan pertama masa hamil, tekanan sistolik dan diastolik menurun 5 sampai 10 mmHg. Penurunan tekanan darah ini kemungkinan disebabkan oleh vasodilatasi perifer akibat perubahan hormonal selama masa hamil. Selama trimester ketiga, tekanan darah ibu harus kembali ke nilai tekanan darah selama trimester pertama.( Bobak, 2004 : 112-113 )

f. Sistem Respirasi
Seorang wanita hamil pada kelanjutan kehamilannya sering mengalami sesak nafas. Hal ini sering ditemukan pada kehamilan 32 minggu keatas.Untuk memenuhi kebutuhan oksigen pada kehamilan terjadi perubahan sistem respirasi, disamping itu juga terjadi desakan diafragma karena dorongan rahim yang membesar . Untuk memenuhi kebutuhan oksigen yang meningkat kira-kira 20%, seorang wanita hamil selalu bernapas lebih dalam, dan bagian bawah toraksnya juga melebar, yang sesudah partus kadang-kadang menetap jika tidak dirawat dengan baik.

g. Sistem Pencernaan
Karena pengaruh estrogen, pengeluaran asam lambung meningkat yang dapat menyebabkan pengeluaran air liur berlebihan, daerah lambung terasa panas, terjadi mual dan sakit kepala terutama pagi hari yang disebut morning sickness, muntah yang disebut emesis gravidarum, muntah berlebihan sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari yang disebut hiperemesis gravidarum, progesteron menimbulkan gerak usus makin berkurang dan dapat menyebabkan obstipasi.

h. Traktus Urinarius
Pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung kencing tertekan oleh uterus yang mulai membesar, sehingga timbul sering kencing. Keadaan ini hilang dengan makin tuanya kehamilan bila uterus gravidus keluar dari rongga panggul. Pada akhir kehamilan, bila kepala janin mulai turun ke bawah pintu atas panggul, keluhan sering kencing akan timbul lagi karena kandung kencing mulai tertekan kembali.

i. Sistem Integumen
Pada kulit terdapat deposit pigmen dan hiperpigmentasi alat-alat tertentu. Pigmentasi ini disebabkan oleh pengaruh melanophose stimulating hormone (MSH) yang meningkat. MSH ini adalah salah satu hormon yang juga dikeluarkan oleh lobus anterior hipofisis. Kadang-kadang terdapat deposit pigmen pada dahi, pipi, dan hidung, dikenal sebagai kloasma gravidarum. Setelah persalinan hiperpigmentasi ini akan menghilang.

j. Metabolisme
Dengan terjadinya kehamilan, metabolisme tubuh mengalami perubahan yang mendasar, karena kebutuhan nutrisi makin tinggi untuk pertumbuhan janin dan persiapan memberikan ASI.

3. Tanda-tanda Kehamilan
Pada mata rantai konsepsi (fertilisasi), implantasi (nidasi) terjadi perubahan rohani dan jasmani, karena terdapat pengeluaran hormon spesifik dan menimbulkan gejala dan tanda hamil yang merupakan tanda dugaan hamil, tanda kemungkinan hamil, dan tanda pasti kehamilan.

a. Tanda Dugaan Hamil
Tanda ini meliputi tidak datang bulan ( amenorea ) dengan konsepsi dan nidasi mulai mengeluarkan hormon, maka pertumbuhan dan perkembangan folikel tidak terjadi sehingga terdapat keadaan ”tidak datang bulan.”Buah dada sakit, buah dada dipersiapkan sejak semula, dengan terjadi perubahan peredaran darah, menahan air dan garam, sehingga ujung saraf tertekan yang menimbulkan rasa penuh dan sakit, terutama kehamilan pertama.
Perasaan mengidam, ( ingin makanan khusus ) yang dapat berupa mual muntah terutama pagi hari, kurang suka makanan, tidak tahan bau-bauan, terdapat pengeluaran air liur berlebihan, kepala sakit dan pusing, ingin makanan tertentu.Gangguan pencernaan dan perkemihan, sering sulit buang air besar karena kurang makan serat dan pengaruh hormonal, sering kencing berlebihan karena kandung kemih tertekan rahim. Pigmentasi kulit, karena pengaruh hormon tertentu terdapat pigmentasi kulit wajah, sekitar buah dada, dan dinding perut

b. Tanda kemungkinan hamil
Pada pemeriksaan kehamilan dapat diduga hamil bila dijumpai pembesaran rahim dan perut, pemeriksaan memberikan petunjuk adanya kehamilan apabila terdapat kontraksi rahim saat diraba, ada tanda hegar, chadwick, piscaseck, ballotement, dan reaksi pemeriksaan kehamilan positif.

c. Tanda pasti kehamilan
Dengan menggunakan ultrasonografi ( USG ), kehamlian pasti sudah dapat ditetapkan pada umur yang relatif muda. Dengan metode konvensional kepastian hamil bila teraba bagian janin, terdengar detak jantung janin, serta teraba gerakan janin ( Manuaba, 1999 : 81- 82 ).
B. Asuhan Antenatal
1. Definisi
Antenatal Care adalah pengawasan sebelum persalinan terutama ditujukan pada pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Asuhan kehamilan bertujuan utama untuk memfasilitasi hasil yang sehat dan positif bagi ibu maupun bayinya dengan cara membina hubungan saling percaya dengan ibu, mendeteksi komplikasi-komplikasi yang dapat mengancam jiwa, mempersiapkan kelahiran dan memberikan pendidikan. Asuhan antenatal penting untuk menjamin agar proses alamiah tetap berjalan normal selama kehamilan. Kehamilan dapat menjadi masalah atau komplikasi setiap saat. Sekarang ini secara umum sedah dapat diterima bahwa setiap saat kehamilan membawa resiko bagi ibu. WHO memperkirakan bahwa sekitar 15% dari seluruh wanita hamil akan berkembang menjadi komplikasi yang berkaitan dengan kehamilannya serta dapat mengancam jiwanya.
Meskipun kehamilan adalah sesuatu hal yang fisiologis, tetapi pada sebagian ibu hamil tidak menutup kemungkinan adanya komplikasi-komplikasi yang membuat kehamilannya bersifat patologis. Untuk dapat mengetahui adanya komplikasi atau berbagai kelainan dalam kehamilan secara dini diperlukan pemeriksaan kehamilan. Pemeriksaan kehamilan atau antenatal care ini sangat penting dalam upaya menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu maupun perinatal.

2. Tujuan
Tujuan dari antenatal menurut Manuaba ( 1998 : 129 ) adalah:
a. Dapat mengenal dan menangani sedini mungkin penyulit yang terdapat pada saat kehamilan, persalinan dan nifas.
b. Mengenal dan menangani penyakit yang menyertai hamil, persalinan dan nifas.
c. Memberikan nasehat dan petunjuk yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, nifas, laktasi dan aspek keluarga berencana.
d. Menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan perinatal.

3. Manfaat
Manfaat pemeriksaan kehamilan adalah dapat mengetahui berbagai resiko dan komplikasi hamil sehingga ibu hamil dapat diarahkan untuk melakukan rujukan ke instansi yang lebih tinggi dengan fasilitas yang memadai (Manuaba, 1999 : 129 ).



4. Kebijakan Program
Menurut Saifuddin (2002 : 90), pemeriksaan kehamilan dilaksanakan minimal 4 kali selama kehamilan, yaitu:
1. Satu kali pada trimester pertama.
2. Satu kali pada trimester kedua.
3. Dua kali pada trimester ketiga.
Pelayanan/asuhan standar minimal adalah 7 T yaitu:
1. Timbang berat badan.
2. Ukur tekanan darah.
3. Ukur tinggi fundus uteri.
4. Pemberian imunisasi Tetanus Toksoid secara lengkap.
5. Pemberian tablet Fe, minimal 90 tablet selama kehamilan.
6. Test terhadap penyakit menular seksual.
7. Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan.
Dari ketujuh kebutuhan dasar diatas pada kenyataan dilapangan masih banyak ibu hamil yang tidak mendapatkannya secara lengkap karena berbagai alasan, baik dari segi ketersediaan alat dan bahan ataupun karena ibu hamil yang belum menyadari pentingnya pemeriksaan kehamilan, sehingga mereka enggan untuk memeriksakan kehamilannya. Seperti halnya pemberian tablet Fe pada ibu hamil, walaupun ini terlihat mudah namun masih banyak ibu hamil yang tidak mendapatkannya. Ada beberapa hal yang menyebabkan ini terjadi, diantaranya tablet Fe tidak selalu tersedia di BPS, ibu hamil tidak mengetahui pentingnya tablet Fe tersebut. Padahal jika konsep 7 T diatas betul-betul bisa diterapkan pada asuhan kehamilan maka komplikasi-komplikasi pada kehamilan dapat dicegah dan ditangani secara dini sehingga angka kesakitan dan kematian ibu akan dapat diturunkan jumlahnya.

5. Kebijakan teknis
Menurut (Saifuddin, 2002 : 90), penatalaksanann ibu hamil secara keseluruhan meliputi komponen-komponen, yaitu:
 mengupayakan kehamilan yang sehat
 melakukan deteksi dini komplikasi
 persiapan persalinan yang bersih dan aman
 perencanaan antisipatif dan persiapan dini untuk melakukan rujukan jika terjadi komplikasi

C. Anemia
1. Anemia Kehamilan
Menurut Sarwono (2005 : 32) seseorang baik pria maupun wanita, dinyatakan menderita anemia apabila kadar hemoglobin dalam darahnya kurang dari 12g/100 ml. Definisi lain menyebutkan bahwa anemia adalah kekurangan sel darah merah, yang dapat disebabkan oleh hilangnya darah yang terlalu cepat atau karena terlalu lambatnya produksi sel darah merah. (Guyton & Hall,1997 : 538).
Sedangkan menurut Saifuddin (2002 : 28) Anemia adalah kondisi ibu dengan kadar Hemoglobin dibawah 11 gr% pada trimester 1dan 3 atau kadar hemoglobin < 10,5g% pada trimester 2. Nilai batas tersebut dan perbedaannya dengan kondisi wanita tidak hamil terjadi karena hemodilusi, terutama pada trimester 2.
Kebutuhan ibu selama kehamilan ialah 800 mg besi, diantaranya 300 mg untuk janin plasenta dan 500 mg untuk pertambahan eritrosit ibu. Dengan demikian ibu membutuhkan tambahan sekitar 2-3 mg besi / hari. (Saifuddin, 2002 : 28).
Darah bertambah banyak dalam kehamilan, yang lazim disebut hidremia atau hipervolemia. Akan tetapi, bertambahnya sel-sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma, sehingga terjadi pengenceran darah. Pertambahan tersebut berbanding sebagai berikut : plasma 30%, sel darah 18%, dan hemoglobin 19%.
Pengenceran darah dianggap sebagai penyesuaian diri secara fisiologis dalam kehamilan dan bermanfaat bagi wanita. Pertama-tama pengenceran itu meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat dalam masa hamil, karena sebagai akibat hidremia cardiac output meningkat. Kerja jantung lebih ringan apabila viskositas darah rendah. Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah mulai sejak kehamilan umur 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 36 minggu. (Sarwono, 2005 : 32)
Glade (1999) menyatakan bahwa wanita hamil harus selalu bugar serta sehat dan memiliki kemampuan yang baik untuk mengangkut oksigen agar tubuhnya dapat memasok kebutuhan janin akan oksigen. Anemia selama kehamilan menyebabkan ibu hamil tidak begitu mampu untuk menghadapi kehilangan darah dan membuatnya lebih rentan terhadap infeksi.
Kemungkinan anemia harus diperiksa jika kadar hemoglobin menurun sampai 11g% atau kurang. Anemia tidak selalu terlihat dari tanda-tanda eksternal, gejala yang terjadi biasanya samar-samar (keluhan tidak enak badan, pusing, berdebar-debar dll). Karena alasan inilah, pengukuran kadar hemoglobin harus dilakukan pada kunjungan pertama ke klinik antenatal dan pengukuran berikutnya dikerjakan bila terdapat indikasi. Pada kebanyakan kasus, pemberian nutrisi yang memadai dan terafi profilaksis dengan tablet zat besi membawa hasil yang memuaskan dalam mengatasi anemia fisiologis (hemodilusi) pada kehamilan. (Helen Farrer, 1999 : 104-105).
Wanita memerlukan zat besi lebih tinggi dari laki-laki, karena terjadi menstruasi dengan perdarahan sebanyak 50 sampai 80 cc setiap bulan dan kehilangan zat besi sekitar 30 sampai 40 mgr. Disamping itu kehamilan memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan membentuk sel darah merah janin dan plasenta. Makin sering seorang wanita mengalami kehamilan dan melahirkan akan makin banyak kehilangan zat besi dan menjadi makin anemis Mochtar (1998).
Jika persediaan cadangan Fe minimal, maka setiap kehamilan akan menguras persediaan Fe tubuh dan akhirnya menimbulkan anemia pada kehamilan berikutnya. Pada kehamilan relatif terjadi anemia karena darah ibu hamil mengalami hemodilusi dengan peningkatan volume 30% sampai 40% yang puncaknya pada kehamilan 32 sampai 34 minggu. Setelah persalinan, dengan lahirnya plasenta dan perdarahan, ibu akan kehilangan zat besi sekitar 900 mgr. Saat laktasi, ibu masih memerlukan kesehatan jasmani yang optimal sehingga dapat menyiapkan ASI untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Dalam keadaan anemia, laktasi tidak mungkin dapat dilaksanakan dengan baik. (Manuaba, 1998 : 29-30).

2. Pengaruh Anemia Dalam Kehamilan
Anemia dalam kehamilan memberi pengaruh kurang baik bagi ibu, baik dalam kehamilan, persalinan maupun dalam nifas dan masa selanjutnya. Menurut Manuaba (2001), pengaruh anemia terhadap kehamilan adalah sebagai berikut :
a. Bahaya selama kehamilan :
 Dapat terjadi abortus
 Persalinan prematuritas
 Hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim
 Mudah terjadi infeksi
 Perdarahan antepartum
 Ketuban Pecah Dini (KPD)
b. Bahaya saat persalinan :
 Partus lama karena inersia uteri
 Kala satu dapat berlangsung lama
 Kala dua berlangsung lama sehingga dapat melelahkan dan sering memerlukan tindakan operasi kebidanan
 Kala uri dapat diikuti retensio plasenta dan perdarahan pospartum karena atonia uteri
 Kala empat dapat terjadi perdarahan pospartum dan atonia uteri
 Infeksi baik intrapartum maupun pospartum
 Syok
c. Bahaya pada saat nifas :
 Terjadi subinvolusi uteri menimbulkan perdarahan pospartum
 Memudahkan infeksi puerperium
 Pengeluaran ASI berkurang
 Anemia kala nifas
 Mudah terjadi infeksi mammae
Hipoksia akibat anemia dapat menyebabkan syok dan kematian ibu pada persalinan sulit, walaupun tidak terjadi perdarahan.
Sarwono (2005 : 451) juga menyatakan bahwa anemia dalam kehamilan juga memberi pengaruh kurang baik terhadap hasil konsepsi,
diantaranya :
a). Kematian mudigah
b). Kematian perinatal
c). Prematuritas
d). Terjadi cacat bawaan
e). Cadangan besi kurang
Jadi, anemia dalam kehamilan merupakan sebab yang sangat potensiall terhadap kejadian morbiditas serta mortalitas ibu dan anak.

3. Macam-macam Anemia
Menurut Djamhoer (2005), pembagian anemia dalam kehamilan adalah sebagai berikut :
a). Anemia defisiensi besi
Bentuk anemia ini bisa disebabkan oleh asupan zat besi dari makanan yang kurang memadai, absorpsi yang jelek, hiperemesis, kehilangan darah haid yang banyak, kehamilan yang sering dan berkali-kali. Kehilangan darah yang sedikit-sedikit tapi terus menerus dapat pula menjadi penyebab anemia tersebut.

b). Anemia megaloblastik
Anemia megaloblastik dalam kehamilan disebabkan karena defisiensi asam folik. Asam folat diperlukan untuk pertumbuhan jaringan dan produksi sel-sel darah merah. Kebutuhan wanita hamil akan asam folat mengalami peningkatan sebanyak lima kali lipat daripada kebutuhan wanita yang tidak hamil. Sebagian besar wanita hamil yang beresiko adalah wanita yang memiliki riwayat perdarahan antepartum, wanita dengan kondisi sosioekonomi yang buruk, wanita dengan kehamilan kembar dan multigravida dengan empat atau lebih kehamilan sebelumnya.

c). Anemia hipoplastik
Anemia pada wanita hamil yang disebabkan karena sumsum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah baru, dinamakan anemia hipoplastik dalam kehamilan. Biasanya anemia hipoplastik karena kehamilan, apabila wanita dengan selamat mencapai masa nifas, akan sembuh dengan sendirinya. Dalam kehamilan-kehamilan berikutnya biasanya wanita menderita anemia hipoplastik lagi.

d). Anemia hemolitik
Anemia hemolitik disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlagsung lebih cepat dari pembuatannya. Wanita dengan anemia hemolitik sukar menjadi hamil, apabila ia hamil, maka anemianya biasanya menjadi lebih berat.

4. Tanda dan Gejala
Keluhan lemah, pucat, mudah pingsan, cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, dan keluhan mual muntah lebih hebat pada kehamilan muda.


D. Jarak Kelahiran
Jarak kelahiran adalah waktu sejak ibu hamil sampai terjadinya kelahiran berikutnya. Jarak kelahiran yang terlalu dekat dapat menyebabkan terjadinya anemia. Hal ini dikarenakan karena kondisi ibu masih belum pulih dan pemenuhan kebutuhan zat-zat gizi belum optimal, sudah harus memenuhi kebutuhan nutrisi janin yang dikandung.
Paritas adalah jumlah kehamilan yang menghasilkan janin hidup, bukan jumlah janin yang dilahirkan (Bobak, 2005 : 104). Definisi lain menyebutkan paritas adalah jumlah kehamilan dari seorang pasien yang bayinya berhasil hidup (20 minggu atau lebih) (Moore, 2001). Janin yang lahir hidup atau mati setelah viabilitas ( kapasitas untuk hidup diluar uterus, 20 minggu kehamilan atau berat janin lebih dari 500 mg). Perlu dicatat bahwa graviditas dan paritas mengacu pada jumlah kehamilan, bukan janin atau bayi yang dilahirkan. Kehamilan kembar dihitung sebagai satu kehamilan. Karena itu, wanita yang saat ini hamil dan pernah mempunyai satu kehamilan tunggal dan satu kehamilan kembar sebelumnya akan menjadi G3P2. Wanita yang saat ini hamil dan pernah mengalami satu aborsi dan satu kehamilan ektopik maka akan menjadi G3P0 (Moore, 2001).
Resiko proses reproduksi dapat ditekan apabila wanita tidak hamil dan melahirkan lebih dari 3 kali dan jarak minimal antara kelahiran adalah 2 tahun. Kehamilan dengan jarak di atas 24 bulan sangat baik untuk ibu karena kondisi pisik serta fungsi-fungsi tubuhnya sudah kembali normal sehingga organ-organ reproduksinya sudah mampu menerima kehamilan. Jarak kehamilan berikutnya yang dianjurkan adalah tidak boleh lebih dari 59 bulan.
Menurut Varney (2001:302) salah satu penyebab kejadian anemia pada kehamilan adalah sejarah kehamilan yang berdekatan. Wanita memerlukan zat besi lebih tinggi dari laki-laki karena terjadi menstruasi dengan perdarahan sebanyak 50 sampai 80 cc setiap bulan dan kehilangan zat besi sebesar 30 sampai 40 mg. Disamping itu, kehamilan memerlukan tambahan zat besi untuk meningkatkan jumlah sel darah merah dan membentuk sel darah merah janin dan plasenta.Makin sering seorang wanita mengalami kehamilan dan melahirkan akan makin banyak kehilangan zat besi dan makin anemis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar